Showing posts with label Disgust Gallery. Show all posts
Showing posts with label Disgust Gallery. Show all posts

Monday, August 23, 2021

Menangis Tanpa Suara

Menangis Tanpa Suara - T.Fany.R - Larasrasa Music


Hidup bagai menggambar tanpa penghapus

Yang terlanjur tercoret akan terus membekas

Hingga menangis tanpa suara

Menjadi kisah yang diam-diam tersimpan di dada


Mengalir penuh kesedihan

Menjadi butir tangisan

Dan buih kepiluan

Yang hanyut perlahan bersama waktu


Mengapa dulu kita berjumpa

Hanya untuk bertemu sunyi

Lalu hilang diterpa angin

Seakan kisah kita tak pernah benar-benar terjadi


Apakah ini akhir cerita kita

Atau hanya jeda sebelum takdir menuliskan bab baru


Untuk merangkai kebahagiaan

Dan menulis kisah baru yang lebih indah dari kemarin.


Menanti untuk ditata dengan kisah

Disusun dengan indah

Selamat tinggal

Biarlah kenangan kita menjadi bagian dari masa lalu



Song Credits


Producer : Larasrasa Music

Lyrics : T.Fany.R

Arrangements : Earwind

Video : T.Fany.R

Production House : CSE

Sunday, August 8, 2021

Saat Matahari Tenggelam

Saat matahari tenggelam

Di jalanan kota kejam

Aku menyusuri gang kecil yang berliku

Untuk menemui senyummu


Bertamu di hatimu

Selalu membuatku rindu

Apakah kau belahan hatiku

Atau sekedar persinggahan sementara


Saat aku bertemu denganmu

Hidupku menjadi luar biasa

Selalu tidak sabar

Untuk menantikan petualangan besok


Kamu adalah orang terakhir yang ingin aku lihat setiap malam sebelum aku memejamkan mata

dan aku ingin menjalani hidupku dalam kehangatan senyummu


Dan misteri tentangmu adalah yang ingin kuhabiskan seumur hidupku untuk berpetualang


Terima kasih kota besar dan segala takdirnya

Daripada di antara, lebih baik baik aku mundur di tepian

Saturday, July 14, 2012

Muak

Masa kecil terlalu dimanja hanya akan membuahkan anak menjadi mental tempe
Usia bertambah mental akan seperti tempe 'menjes'
Alay dan tidak mandiri
Ketika dewasa tidak bisa bersikap layaknya orang dewasa

Aku benci anak manja

Friday, June 6, 2003

Emansipasi Wanita


Salah satu persepsi publik paling popular adalah anggapan bahwa makna emasipasi wanita adalah perjuangan kaum wanita demi memperoleh persamaan hak dengan kaum pria. Persepsi itu keliru, namun kaprah dipertahankan, sampai Menteri Urusan Wanita pun
lantang mencanangkannya sebagai pekik perjuangan resmi kaum wanita Indonesia.

Makna emansipasi wanita sebenarnya bukan demi memperoleh persamaan hak dengan kaum pria. Apabila hak kaum wanita disamakan dengan pria, malah akan merugikan pihak wanita! Sebaliknya, hak kaum pria, secara kodrati, juga mustahil disamakan dengan wanita,
akibat realita kewajiban masing-masing jenis kelamin dengan latar belakang biologis kodrati yang tidak sama.

Secara kodrati, meski dipaksakan dengan cara apa pun, kaum pria tidak mungkin melakukan perilaku kodrati wanita, seperti menstruasi, pregnasi, laktasi (datang bulan, mengandung (plus melahirkan), menyusui). Allah memang menciptakan sifat-sifat biologis kodrati pria
beda dengan wanita. Bentuk alat kelamin pria juga diciptakan Allah, berbeda dari wanita, justru demi fungsi reproduksional agar makhluk manusia tidak punah.

Keliru sambil merugikan, jika kaum wanita berjuang untuk memperoleh hak yang sama dengan hak pria. Karena berdasar latar-belakang kodrati yang berbeda, di dunia
tenaga kerja di Indonesia masa kini, kaum wanita justru memiliki kelebihan hak ketimbang pria, yakni cuti menstruasi, hamil sekaligus melahirkan. Dengan hak cuti dua hari setiap bulan di masa menstruasi, masih ditambah hak cuti tiga bulan = 90 hari di masa hamil dan melahirkan, seorang pekerja wanita malah memiliki kelebihan hak cuti selama: 90 + (12 x 2) = 114 hari ketimbang pria.

Apabila hak pekerja wanita disamakan dengan pekerja pria, maka langsung hak lebih 114 hari itu akan lenyap, demi kerugian wanita. Sebaliknya tidak ada alasan, bagi pekerja pria untuk disamakan hak cuti kodratinya dengan pekerja wanita, akibat latar belakang realita kodrati biologis kaum pria mustahil memenuhi syarat untuk memperoleh cuti. Menggelikan,
jika pekerja pria menuntut hak cuti kodrati mereka, misalnya cuti ereksi, atau cuti menghamili, yang secara fisik sebenarnya cukup melelahkan itu. Yang lebih produktif sebenarnya adalah perjuangan agar pekerja wanita memperoleh hak atas imbalan gaji sesuai
realita kemampuannya, setara dengan yang diterima pekerja pria dengan kemampuan sama.

Secara kultural, jika hak wanita disamakan dengan pria, juga merugikan wanita! Karena dengan persamaan hak, maka kaum wanita, terutama yang sedang hamil, akan kehilangan hak kultural untuk dilindungi, dan prioritas kemudahan di saat-saat khusus, seperti hak
memperoleh tempat duduk yang layak di kendaraan umum, atau hak untuk terlebih dahulu diselamatkan di saat bencana atau kecelakaan, maupun hak untuk memperoleh prioritas kehormatan seperti dibukakan pintu mobil, dipayungi di saat hujan, dan aneka adat istiadat tata kesopanan yang menguntungkan kaum wanita lainnya.

Makna emansipasi wanita yang benar, adalah perjuangan kaum wanita demi memperoleh hak memilih dan menentukan nasib sendiri. Sampai kini, mayoritas wanita Indonesia, terutama di daerah pedesaan dan sektor informal belum sadar atas, apalagi memiliki, hak
memilih dan menentukan nasib mereka sendiri, akibat normatif terbelenggu persepsi etika, moral, dan hukum genderisme lingkungan sosio-kultural serba keliru.

Belenggu budaya anakronistis itulah yang harus didobrak gerakan perjuangan emansipasi wanita demi memperoleh hak asasi untuk memilih dan menentukan nasib sendiri.

(oleh Jaya Suprana dari http://www.indomedia.com/intisari/2001/Apr/kelirumologi.htm)