Tuesday, November 5, 2013
SAAT JAUH DARI IBU
Teman-teman, tetaplah duduk pada posisi anda saat ini, matikan soundcard atau
game yang sedang anda mainkan, berhentilah sejenak dan bacalah baik-baik.
Bayangkan didepan kita ada sebuah televisi 21 inci. Lalu anda berjalan ke depan
perlahan-lahan meraba televisi dan mencoba menyalakannya. Kemudian kita tekan
tombol power yang ada didepan, kita pilih channel yang cocok. Tanpa sengaja
muncul sebuah gambar yang aneh menggambarkan lingkungan seputar kita, bekerja di
kota batam ini.
Kita lihat disana sebuah video kehidupan kita. Tampak oleh mata kita aktivitas
kita sedang bekerja, menekan tuts-tuts keyboard. Ada juga saat-saat kita di
tempat kost, bersendau gurau dan 'kadang-kadang' pergi sembahyang ke masjid.
Nampak juga pemandangan yang hmm... malu kalau video itu dilihat orang lain.
Kemudian muncul di hadapan kita hari-hari kita berikut kesuksesan kita bisa
bekerja di batam. Saat kita telah sekolah dan bisa mendapat pekerjaan meski
pas-pasan.
Hingga suatu saat kita menyempatkan pulang ke rumah, ke kampung halaman kita.
Dengan segala perasaan senang dan bangga atas keberhasilan kita, atas prestasi
kita dan juga atas keberhasilan kita 'belajar' di negeri batam. Kita juga ingin
bercerita banyak kepada ibu dan bapak kita tentang perubahan yang ada para diri
kita. Bahwa di batam kita telah belajar ngaji, di batam kita rajin sholat dan
berkat pengalaman di batam inilah kita ingin meningkatkan bakti kita pada orang
tua.
Sepanjang perjalan ke kampung halaman, perasaan kita selalu dinaungi gemuruh
keriangan dan kegembiraan karena membayangkan perjumpaan kita dengan ibu kita
yang tercinta, membayangkan masakan beliau yang paling enak sedunia, dekapan
hangat beliau dan juga perhatian sebagai ungkapan kasih sayang beliau kepada
kita. Tentu ibu akan memanggil kita dengan panggilan mesra, memanjakan kita,
seolah-olah kita adalah satu-satunya anak beliau yang paling dikasihinya.
Siang itu sampailah kita di rumah tempat kita dibesarkan. Namun suasana agak
sepi, tidak ada orng di luar rumah. Alangkah lebih kagetnya ketika kita dapati
satu dua orang duduk di ruang tamu yang meja-kursinya telah dikeluarkan. Hanya
ada hamparan tikar disana. Beberapa orang laki-laki dan perempuan duduk
melingkar dan pandangan mata mereka menunduk.
Tiba-tiba mata kita tertuju pada sebuah kotak segi empat sebesar dipan yang
terhampar di tengah ruangan. Kita hampiri kotak tersebut, kita singkap tutupnya
dan alangkah kagetnya kita karena sebujur tubuh sedang terbaring disana. Tubuh
dengan wajah muali keriput namun masih nampak ayu. Ia tertidur dengan pulasnya.
Masih nampak senyumannya yang ikhlas dari bibirnya. Ia lah wajah ibunda kita.
Ibu yang telah melahirkan kita, yang telah mendidik kita dengan penuh kasih
sayang. Kita pegang tangannya hendak menciumnya, ternyata tangan itu telah
dingin. Kita pegang wajahnya, ia tetap diam dan tidak bergerak sama-sekali. Kita
goyang-goyangkan tubuhnya ia tetap tidak bergeming. Kita panggil namanya, ibu
..... ibu .... ibu .... Ia tetap diam seribu bahasa.
Saat itu airmata ini mulai menetes satu-satu dipipi. Kita baru menyadari bahwa
ibunda kita telah tiada. Ibu telah menghadap kepada yang Mahakuasa. Ibunda pergi
meninggalkan kita. Ingin rasanya berteriak memanggil namanya, namun lidah ini
jadi kelu, hanya air mata yang berderai dan sesenggukan tangisan kita yang
keluar dari mulut ini. Ibu yang kita cintai teah pergi, ibu telah pergi..... ibu
telah tiada.
Perlahan-lahan kita telusuri tubuh ibunda yang telah kaku, kita goyang ke kanan
dan kekiri, barangkali ia masih mau terbangun, namun sia-sia. Tubuh itu tetap
membujur kaku. Setelah itu kita mencium wajahnya yang masih nampak tersenyum dan
akan kembali menutup kain ke tubuhnya, ketika itu terselib seberkas kertas
disebelah tubuh ibunda. Kertas tersebut kita ambil, kita buka, ternyata sepucuk
surat tulisan tangan ibu kita :
Assalamu'alaikum wr wb.
Anakku yang dirahmati Allah.
Semoga engkau tetap sehat dan selalu dalam naungan dan lindungan Allah yang Maha
Pengasih.
Wahai anakku yang baik,
Ibu masih teringat saat pertama engkau akan berangkat ke batam, waktu itu engkau
berpamitan bahwa engkau akan pergi bekerja, mengadu nasib disana. Engkau juga
berkata nanti kalau sudah kerja kamu akan melanjutkan sekolah, bekerja lagi
sekolah lagi, sampai sukses.
Engkau juga mengatakan bahwa nanti di Batam engkau akan berusaha menjadi anak
baik, akan selalu menunaukan sholat, akan mengaji ilmu agama kembali dan akan
berusaha menjadi anak yang sholih.
Anakku,
Masih terasa ciuman takzimmu ketika engkau mencium telapak tangan ibu sebelum
kerangkatanmu. Airmata ibu pun tak tertahankan meski ibu lihat engkau tampak
tegar dengan semangat membara. Sampai akhirnya mobil angkutan yang membawa
engkau pergi meninggalkan kota kelahiranmu ini. Masih terbayang juga lambaian
tanganmu ketika mobil yang membawamu telah jauh meninggalkan ibu.
Anakku,
Dalam suratmu yang terakhir engkau menceritakan keberhasilanmu bekerja, prsetasi
yang engkau raih sehingga engkau dipercaya oleh teman-teman sekerjamu juga
atasanmu. Engkau juga bercerita bahwa kamu mulai melanjutkan sekolah, kuliah
lagi, barangkali ilmunya nanti bisa untuk bekal kemudian hari. Ibu terharu
dengan itu semua, begitu gigihnya engkau mengejar prestasi, meski jauh dari sisi
ibu ini.
Anakku,
Untuk yang terakhir kali, ibu berpesan, jagalah adik-adikmu hormatilah
kakak-kakakmu dan jagalah hubungan baik dengan semua saudara-saudaramu.
Kembalilah bekerja dengan tekun dan teruslah belajar, jangan engkau menyerah.
Ibu mendoakan engkau semoga Allah memberikan jalan terang pada masa depan engkau
nanti.
Anakku,
maafkanlah ibu jika ternyata ibu pernah berbuat kasar pada engkau, membentak
engkau atau mungkin menyakitkan hati kamu selama ini. Sampaikan salam ibu untuk
teman-teman kamu yang baik-baik itu, untuk guru dan dosenmu yang engkau
ceritakan itu dan untuk semua sahabat-sahabatmu.
Ibu pergi mendahului kalian, semoga kelak kita bertemu di syurganya yang mulia.
Amin.
Wassalam,
Ibunda
Maka surat itu kita lipat kembali dan kita mendapati jasad ibu kaku di hadapan
kita. Kita lalu bersimpuh dan berdoa, doa untuk mengantarkan perjuampaan kita
yang terakhir di dunia dengan ibunda kita. Doa dengan segala keridhoaan dan
kerelaan hati kita mengantarkan ibunda menghadap kekasihnya yang Agung, Allah
SWT.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dan tiba-tiba lampu padam, televisi dihadapan kita mati, semua lampu juga mati
....
Rekan - rekan yang baik. Kini sadarlah kembali dan lihatlah sekeliling, kita
masih di tempat kerja, kita masih hidup disini, dan ibu kita juga Insya Allah
masih sehat di rumah.
Namun gunakanlah kesempatan ini untuk mengenang kembali sejenak ibu kita,
telponlah ke kampung seklai-kali, kabarilah ibunda kita tercinta tentang ekadaan
kita, dan jangan lupa mengirim surat untuk menanyakan keadaan beliau, dan yang
paling penting adalah selalu berbakti dan mendoakan ibunda kita tercinta.
Wassalam,
Labels:
Love Gallery
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment